STATUS BEROBAT DENGAN BEKAM

Musdar Bustamam Tambusai

Bekam merupakan sunnah karena ia bagian dari sesuatu yang pernah dilakukan Nabi atau dianjurkan oleh Nabi, sedangkan hukum asalnya - secara fiqh - adalah mubah. Tapi jika diniatkan untuk ibadah, status hukumnya menjadi sunnah / sunat.
Apakah hukumnya sunnah dan bernilai ibadah (khusus dalam perspektif fiqh/ ushul fiqh)?. 
Pertanyaan yang lebih menukik tentang status hukumnya adalah : Apakah mempraktikkan bekam itu sunnah sebagaimana sunnah-nya memakai siwak, sholat Dhuha, sholat witir dan sebagainya?.
Sebagian ulama telah menyampaikan pendapatnya, antara lain : Dr. Ramadhan al-Buthiy menegaskan bahwa "Tidak ada seorang muslim -maksudnya ulama- yang berpendapat bahwa bekam itu Sunnah Nabi dilihat dari wujudnya. Tapi ketika bekam itu dapat dipastikan sebagai obat yang bermanfaat, maka ketika itu barulah ia berstatus sunnah". Karena Nabi bersabda :

(تداووا عباد الله فإن الله سبحانه لم يضع داء الا وضع معه شفاء الا الهرم (رواه الأربعة واللفظ لابن ماجه

"Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah SWT tidak menurunkan penyakit melainkan disertakan obatnya kecuali penyakit tua".

Untuk memastikan bahwa bekam itu obat yang dapat menyembuhkan penyakit, harus merujuk kepada ahlinya yaitu para pakar pengobatan alias dokter-dokter ahli medis.

Kesimpulannya, bekam bukan sunnah yang permanen (sunnah mustamirroh). Berobat dengan bekam merupakan sesuatu yang bersifat sunnah jika tepat sasaran, yaitu dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Artinya, jika secara medis, bekam memberikan manfaat, maka ke-sunnah-annya menjadi pasti. Ke-sunnah-annya bukan karena bekamnya tapi karena fungsinya sebagai obat / terapi yang menyehatkan.

Dr. Wahbah az-Zuhailiy berpendapat bahwa hukum asal bekam adalah Mubah. Perbuatan dan sabda Rasulullah tentang bekam menjadi dalil bolehnya berbekam, bukan dalil penetapan bekam sebagai ibadah atau sunnah.

KESIMPULAN :

  • Bekam, madu, qustul bahri dan lainnya yang bermanfaat sebagai obat berdasarkan hadits Nabi wajib kita imani dan yakini sebagai pesan wahyu.
  • Bekam akan menjadi sunnah ketika benar-benar bermanfaat sebagai obat atau sebagai tindakan preventif (pencegahan penyakit). Tapi jika menimbulkan mudarat, hilanglah ke-sunnah-annya. Bukan karena bekam pernah dilakukan Nabi, lalu otomatis menjadi Sunnah.
  • Setelah dilakukan riset dan penelitian, terbukti bahwa bekam sangat bermanfaat sebagai metode pengobatan (preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif).
  • Oleh karena itu, seorang pembekam harus memenuhi syarat-syarat untuk menjadi praktisi yang diakui oleh lembaga kesehatan, agar praktiknya AMAN dari pelanggaran yang mengancam keselamatan pasien atau dapat menghilangkan nyawa.
  • Dari aspek pahala, sesuatu yang sifatnya mubah jika diniatkan sebagai ibadah, maka akan menjadi sunnah (sunat, mustahab, tathowwu' dan nafilah) seperti makan-minum, tidur dan lainnya yang bisa berubah status hukumnya dari mubah menjadi sunnat jika diniatkan untuk ibadah.
  • Istilah sunnah/ ibadah yang menjadi polemik jika dikaitkan dengan bekam, seperti sesuatu yang tidak esensial. Artinya, kesunnahan dan nilai ibadah bekam itu pasti ada dan tidak terbantahkan. Asalkan pelakunya, cara dan tujuannya mulia dan sejalan dengan tujuan syariat.
  • Oleh karena itu, kesunnahan berbekam (Bekam Sunnah) sangat ditentukan oleh 3 hal : PRAKTISI, METODE/ CARA, dan TUJUAN, In sya Allah.

Semoga tulisan ini bermanfaat, mohon doanya agar selalu istiqomah di jalan kebenaran.

==================
Medan, 20 September 2020